
*Jakarta, 4 Agustus 2026* – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan telah membahas rencana restrukturisasi utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Pembahasan ini dilakukan di tengah tekanan keuangan PT KCIC dan anak usahanya. Berdasarkan laporan semester I 2026, kerugian perusahaan tercatat sebesar *Rp5,13 triliun*. Angka ini lebih dalam dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp4,99 triliun.
Selain rugi, kondisi neraca juga melemah. Hingga 30 Juni 2026, total aset PT PBSI turun dari Rp25,2 triliun menjadi *Rp21,5 triliun*. Di sisi lain, liabilitas perseroan justru membengkak dari Rp20,1 triliun menjadi *Rp21,5 triliun* pada semester I 2026.
*Proses Restrukturisasi Masih Tahap Pemenuhan Data*
Corporate Secretary PT KCIC, Eva Chairunisa, mengapresiasi langkah pemerintah untuk menyelesaikan persoalan Whoosh.
“Proses restrukturisasi ini masih dalam tahap pemenuhan data yang diminta Kementerian Keuangan dan Danantara,” ujar Eva saat dihubungi _Tempo_, Selasa, 4 Agustus 2026.
Eva menegaskan KCIC saat ini fokus pada dua strategi utama untuk memperbaiki kinerja: meningkatkan volume penumpang dan mengoptimalkan pendapatan non-tiket.
“Kami terus memaksimalkan peningkatan volume penumpang Whoosh dan memindahkan lebih banyak orang dari transportasi pribadi ke publik,” katanya.
“Termasuk memaksimalkan peningkatan revenue fare box, baik dari penjualan tiket maupun di luar itu. Termasuk berkolaborasi agar wilayah yang dilalui Whoosh dapat terus mendapatkan dampak yang positif untuk peningkatan dari sisi ekonomi.”
*Dorong Ekosistem dan Aksesibilitas Stasiun*
Salah satu upaya yang dilakukan KCIC adalah program *Whoosh Value Plus*. Melalui program ini, pengguna tiket Whoosh bisa mendapatkan akses gratis ke tempat wisata, promo kuliner, dan penginapan di Bandung dan Jakarta melalui kerja sama dengan berbagai destinasi wisata.
KCIC juga berkomitmen meningkatkan kemudahan akses ke stasiun.
“Salah satunya jalur akses. Saat ini kami juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk aksesibilitas stasiun-stasiun Whoosh, seperti Karawang, Padalarang, Tegalluar,” jelas Eva.
Dengan restrukturisasi dan berbagai inovasi layanan, KCIC berharap Whoosh dapat menjadi moda transportasi massal yang lebih berkelanjutan secara finansial sekaligus memberi dampak ekonomi bagi daerah yang dilintasinya.(**)

Tinggalkan Balasan